Antara knalpot, lingkungan hidup, dan nasib pengrajin knalpot (I)


Setelah menjalankan mudik ke kampung tepatnya di gegerkalong bandung, ada hal menarik nih yang saya amati saat di perjalanan. Banyak bener dah orang yang mudik pake motor, mulai dari pitung (c70) sampe ninja 250. Rata-rata pemudik motor berboncengan (bonceng bahasa indonesianya apaan ya? :mrgreen: ) 2 hingga 3 orang, biasanya sih yang 1 motor muat 4 orang ya yang ikutan KB :lol:. Uniknya nih, banyak pemudik motor yang mengganti knalpot standarnya dengan knalpot aftermarket/freeflow/racing harapannya mungkin bisa ngail tenaga motor lebih tinggi buat nyeimbangin barang bawaan yang buanyak. inget  just wondering  lho ya, mboh faktanya kaya gimana.

Mudik 2011 :  motor merajalela

Knalpot beginian juga bermacem2 nada suaranya, ada yang ngebass abis sampe ada yang kohar alias blaaar blaaar. Kalo cuma satu motor sih ga begitu ganggu, tapi kalo puluhan motor di sekeliling panjenengan, siap2 minum obat buat darah tinggi :mrgreen:. Emang sih kalo motor 4 tak  multisilinder berknalpot aftermarket suaranya merdu, tapi ya sami mawon kalo banyak yang pake. mbrebeki!!!

Sebenernya berapa sih ukuran tingkat kebisingan kendaraan roda dua yang diizinkan (izin ga izin kayanya pemerintah belom berani tegas alias mak ntes nentuin standar yang digunakan buat ngejerat para pengguna motor berknalpot racing mbrebeki 😦 ). Kalo di amerika sono, badan lingkungan alias Federal Environmental Protection Agency (EPA) udah berani netepin angka 83  desibel untuk segala motor yang melenggang diatas aspal (on road). Kenapa cuma on road doang yang dibatesin, sementara yang offroad ga dibatesin? Soalnya disana tertib masbero, motor offroad ya dipakenya buat ngoffroad dan dibawa kesana digeret pake trailer. Di Indonesia? silahkan jawab sendiri :mrgreen:

on road vs off road

Nah kalo melihat permen (peraturan menteri) negara lingkungan hidup nomor 7 tahun 2009 (bisa didownload disini), udah cukup bagus sih peraturannya. lha wong udah dikelompokkan berdasarkan CCnya, sayangnya peraturan ini belum ditindaklanjuti dengan revisi disertai dengan pembuatan uu yang menunjang UU tahun 2009 tentang lalu lintas, biar lebih tertib nyaman tentram selama berkendara :). Berikut tabel desibel kendaraan motor yang SEMESTINYA dipatuhi.

C. Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L Secara Dinamis
L Max dB(A)
Kategori                    Tahun Pemberlakuan
                                   (i) (ii)
                  L <= 80  cc       85  77
Sepeda Motor 80 < L <= 175 cc       90  80
                  L > 175  cc       90  83

metoda yang dilakukan untuk pengujian bisa dilihat di halaman 11 pada uu tersebut.  Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa batasan tingkat kebisingan di indonesia jauh lebih tinggi daripada di amerika yaitu sebesar 90 desibel. wow. Setahu saya sih yang melakukan pengujian pihak dari Badan Lingkungan Hidup baik kota maupun provinsi di Indonesia. Nah berhubung gadget2 pada murah, mbok ya teknologi yang ada dimanfaatkan. contoh nih deciBel buat android atau decibel meter buat iphone :D, selain lebih hemat anggaran buat pengadaan alat sound meter yang katanya 10 juta per ekor, lebih hemat waktu dan tenaga! Dan tentunya bisa meminimalisasi tindakan korupsi. tapi ya itu tadi, bukan indonesia namanya kalo ga ada korupsi 😀

dB meter, antara murah ga akurat, mahal akurat dikorupsi 😆

So? bagaimana nasib para pengrajin knalpot bila nantinya telah hadir standar mak ntes yang dilalahe dibawah angka sekarang dan aturan mulai ditegakkan (no more racing exhaust on the road!) ?

………………bersambung

(malah kaya tersanjung :lol:)

Iklan

8 responses to “Antara knalpot, lingkungan hidup, dan nasib pengrajin knalpot (I)

    • emang sih capenya lebih daripada naik mobil. tapi kalo ga overload alias cuma berdua + barang dikit, istirahat bentar tiap ngerasa capek dan enjoy insya allah nyampe :D. yah prefer naik mass transport lah dimana2 😀

      Suka

  1. Ping-balik: Antara knalpot, lingkungan hidup, dan nasib pengrajin knalpot (II, end) « Aluvimoto·

Menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s