Tukang parkir oooh tukang parkir


What dafuq. tiap mau parkir cireng di depan malioboro mal selalu aja naik darah jadinya. Gimana enggak, tiap ada space yang muat buat cireng (baca : ga terlalu mefet), si tukang parkir malah ngelempar lempar “ke sana aja mas”, begitupun seterusnya sampai ujung mal.

Malioboro mal (pic : Yeste)

Sekarang kita tilik, seberapa penting tugas tukang parkir? Kok kecenderungannya pada mengabaikan kewajiban dari pekerjaan yang dijalani? Padahal kalo pepatah barat sono berbunyi ” do what you love and love what you do”. lha ini? Kasarannya setelah terima uang, langsung lo gue end πŸ‘Ώ

Lucu juga sih beberapa tahun sebelum pake cireng pernah ditarik 1000 rupiah (padahal pas jaman itu tarif parkir 500 rupiah). Ditanya kok harganya naik, eeeh malah jawab “situ pegang karcis parkir kan, nah dimotor kan juga ada karcisnya jadi wajar mas nek 1000 :mrgreen:. ealah

Tukang parkir yang baik seharusnya :

  1. Mengarahkan ke area yang kosong (lha wong parkir kata serapan dari PARK HERE, dimana maksudnya ada petugas yang membimbing dimana saya harus parkir)
  2. Menjaga agar kendaraan yang diparkir tidak hilang dan memprediksi agar tidak saling nggores ketika akan dimasukkan maupun dikeluarkan. Dan tentunya tidak mengganggu lalu lintas (makan badan jalan)
  3. Membantu orang memundurkan motor (etika sih, bukan kewajiban).

Yah, harus diakui kalau tukang parkir di parkiran malioboro mal sangat menyebalkan, makanya sejak 1 tahun yang lalu emoh parkir disana. Masih banyak tempat parkir yang tukang parkirnya ramah2 seperti di utara dan selatan mal. Malah pas saya lagi makan di dekat kampus, sempet juga saya nolak dibantu mundur karena tau sendiri cireng berat sedangkan tukang parkirnya sudah sepuh. Dan yang mengejutkan saya adalah kata-kata beliau “Mboten nopo2 mas, niki sampun dados kewajiban kula” (gapapa mas, ini sudah jadi kewajiban saya). Asli seketika saya trenyuh dengan ucapan beliau, sepertinya ungkapan londo diatas ada benarnya juga

Β 

Iklan

38 responses to “Tukang parkir oooh tukang parkir

  1. wkwkwk…idem..
    makanya skarang klo mau ke malioboro trima pake motor lain…daripada mau parkir aja susah.. :mrgree:

    Suka

  2. podo wae masbro, aku juga sering digituin nek pas bawa tiger, begitu bawa vario baru boleh deh, bener bener aneh -_-

    Suka

  3. sudah dari dulu mas seperti itu,mending parkir neng kidul toko ramai opo neng gereja cerak ngejaman.ora kudanan ora kepanasen.

    Suka

  4. Sebagai warga pendatang, saya sangat menghargai keramahan kota Jogja. Akan tetapi saat bersama keluarga berbelanja di Malioboro Mall, citra ramah n baik yang sangat tertanam di hati menjadi pudar karena sikap juru parkir sepeda motor di sebelah utara Mall tepatnya di depan Mc Donald. Saat akan pulang, saya tanyakan kepada juru parkir apakah saya hrus mengeluarkan sepeda motor saya sendiri, karena tmpat yg sudah brjubel dan khawatir malah akan bkin ambruk sepeda yg lain. Jawaban yg saya terima justru kalimat yg sebagian sy tidak ketahui artiny dgn muka masam dan trdapat kata “njaluk/minta disaduk” (artiny minta dipukul?). Saya jd merasa “ill fill”, apakah prlakuan itu krn plat nmor saya yg dr luar kota (DA – Kalimantan Selatan). Sungguh sgt ironis, malioboro sbg pusat wisata trnoda oleh ulah juru parkir yg shrusny bisa lebih sopan dlm brtindak.

    Suka

  5. ga melulu liat plat kok mas (kalo yang liat plat biasanya penjual makanan :mrgreen:). emang dasarnya rese tukang parkirnya, makanya saya ga pernah lagi parkir di depan mal. daripada kebawa emosi terus, niatnya mau have fun malah emosi duluan :mrgreen:

    Suka

Menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s