Belajar dari angkringan


Angkringan? Satu kata yang langsung bisa menggambarkan kesederhanaan, kalangan menengah ke bawah, dan tentunya tempat makan murah :mrgreen: . Belakangan ini jadi sering nyantap menu angkringan yang paling terkenal, sego kucing (nasi kucing).

image


Mengapa disebut demikian? Karena 1porsi sego kucing bisa dinilang sedikit dan lauknya sangat simpel. Kalau ga oseng tempe, usus ayam, kikil (sudah jarang), dan yang paling nyentrik sambal teri (meskipun kadang hanya sambal saja :mrgreen: ). Tapi tetap saja makan 4 porsi bikin perut kenyang. Masih kurang? Ada berbagai macam gorengan yang bisa dibuat appetizer ataupun desert 😆

Balik lagi ke angkringan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik selama “ngangkring”, dilihat dari sudut pandang saya sebagai pembeli. Pertama jelas interaksi serta komunikasi. Berbeda dengan restoran (terutama fastfood), di angkringan interaksi & komunikasi terjadi tidak hanya penjual dan pembeli, tapi kadang antarpembeli bahkan ketiganya. Mulai dari masalah hidup, berita terkini yang masih hangat, sepakbola, hingga aspirasi maupun kritisi terhadap pemda.

Kedua, terkait dengan budgeting & menyusun skala prioritas. Misalnya begini, saya hanya bawa uang 10 ribu padahal pulsa saya habis dan saya lapar. Apa yang akan saya lakukan? Tentunya menyisihkan uang 6000 (untuk pulsa 5ribuan, mengingat pentingnya memberi kabar 🙄 ), dan sisanya saya belanjakan untuk mengisi perut di angkringan. Bisa saja saya beli 3 sego kucing dan segelas air putih, atau 2 sego kucing dan segelas es teh, atau malah 2 sego kucing 2 gorengan dan segelas air putih. Untukbpilihan yang dipilih, tiap orang bakal beda karena punya tigkat kepuasan masing2 :mrgreen:

Nah yang ketiga yang mulai langka adalah mengenai kejujuran. Bisa saja kan makan 4 sego kucing tapi cuma ngaku makan 2 saat pembayaran :mrgreen: . Nah disinilah kejujuran dan moral anda diuji. Meskipun si pembeli merasa “aman” karena mengira si penjual tidak tahu, padahal si penjual tahu karena di akhir jualan selalu menginventarisir barang jualannya

Kalo dilihat dari sudut pandang yang jualan, banyak hal juga yang bisa dipelajari. Mulai dari memproyeksikan berapa banyak barang jualan yang akan dibuat setiap harinya, menentukan keputusan mau jualan hari ini atau tidak (terkait dengan cuaca yang berubah2 tiap harinya), dll. Tapi semua tidak dibuat ribet dan tidak butuh ilmu manajemen apapun. Let it flow mawon kalo bahasa jawanya mah

Menutup tahun 2013, masih banyak hal yang perlu dipelajari bagi saya di tahun 2014. Yang penting tetap semangat. Merdeka :mrgreen:

Posted from WordPress for Andromax ULE

Iklan

Penulis: Aluvimoto.com

dream achiever, pure motorcyclist, banker, food lover, motovlogger @ youtube "aluvimotocom" promosi & kerjasama email ke aluvimotoblog@gmail.com

4 thoughts on “Belajar dari angkringan”

Menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s